Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer

Sudah 50-an hari minyak mentah muntah dari sumur yang bocor di Teluk Meksiko, Amerika Serikat (AS). Berdasar kalkulasi para ahli, tumpahan minyak dari sumur milik British Petroleum (BP) itu diperkirakan mencapai 7,6 juta liter per hari.

Dengan begitu, sudah lebih dari 380 juta liter minyak mentah diprediksi muncrat dari perut bumi. Gambar-gambar terbaru satelit memperlihatkan luas tumpahan minyak sudah lebih dari 24 ribu km persegi atau kira-kira separo Provinsi Jatim.

Menurut BBC, minyak mentah mulai tumpah ke perairan Teluk Meksiko setelah anjungan Deepwater Horizon meledak pada 20 April dan tenggelam di pesisir negara bagian AS, Louisiana. Sebanyak 11 pekerja dilaporkan tewas.

Bencana itu disebut-sebut sebagai tumpahan minyak terburuk sepanjang sejarah AS. Tidak heran bila Presiden AS Barack Hussein Obama akhirnya menunda kunjungan ke Indonesia lantaran ingin fokus menangani masalah Teluk Meksiko tersebut.

Kita memang tak perlu khawatir bencana di negeri Abang Sam itu bakal merembet ke tanah air. Sebab, lokasi tumpahan emas hitam tersebut berjarak ribuan kilometer dari Indonesia. Hanya, kita perlu belajar dari sikap dan kebijakan pemerintah AS dalam menghadapi bencana yang mirip kasus lumpur panas di Sidoarjo itu.

Begitu peristiwa tersebut meledak, semua petinggi di AS kompak mendesak BP menanggulangi semua bencana sampai tuntas, termasuk biayanya. Jaksa Agung Eric Holder menegaskan, pemerintah AS tidak akan membayar sepeser pun biaya pembersihan minyak dan BP mesti bertanggung jawab atas semua kerusakan.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi juga menegaskan bahwa BP harus menyelesaikan semuanya, bahkan sebaiknya menangguhkan pembayaran dividen kepada pemegang saham sampai semua menemui titik terang. Obama yang menyebut kebocoran itu sebagai bencana mengerikan terus mendesak BP agar menanggung penalti, ganti rugi, hingga membersihkan polusi. Dari situ, bisa terlihat bahwa mereka satu kata untuk menekan pihak korporasi supaya bertanggung jawab atas yang telah diperbuat.

Berbeda dari Indonesia. Para pejabat negara seakan tak satu suara menyelesaikan semburan lumpur panas di Sidoarjo. Mereka terkesan takut kepada orang di belakang pembuat bencana. Terlepas dari putusan hukum, peran Lapindo Brantas dalam semburan lumpur panas memang masih debatable. Tapi, mayoritas para ahli menyebut muncratnya lumpur panas di Porong itu murni merupakan kesalahan perusahaan milik Aburizal Bakrie tersebut lantaran tak memasang casing saat mengebor minyak.

Dalam kasus Teluk Meksiko, hampir semua korban dipastikan mendapat ganti rugi yang setimpal. Bahkan, semua pengamat memperkirakan BP bakal mengajukan pailit untuk berlindung dari gugatan hukum yang dipastikan tak akan pernah berakhir. Di Indonesia, para korban lumpur tak pernah mendapat kompensasi yang fair. Pemerintah pun seperti tak punya political will untuk segera menuntaskan kasus yang memasuki tahun keempat pada 29 Mei lalu itu.

Yang jelas, dua musibah tersebut terjadi karena kelalaian dalam pengeboran minyak. Karena itu, sektor korporasi harus lebih berhati-hati saat melubangi perut bumi. Kita juga mesti terus berusaha untuk menghentikan semburan lumpur panas. Apakah kita mau hidup puluhan tahun tanpa ada kepastian kapan lumpur berhenti menyembur? Tentu tidak. (*)

Sumber: http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=139664

Comments on: "Kapan Lapindo Belajar dari Teluk Meksiko?" (3)

  1. Benar banget kadang kita melihat pemerintah seolah – olah cuci tangan ga mau peduli dengan bencana yang sudah terjadi

  2. GROUND WATER INDONESIA TO THE WORLD

    INDONESIA CONSIST OF ISLAND COUNTRIES THAT HAVE THE NATURE ISLAND OF BEAUTIFUL AND MULTIPLE ETHNIC participate SAVE THE WORLD FROM EXTINCTION
    Rate translation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag